Jumat, 29 Maret 2013

Baturaden

Pada jaman dahulu, disebuah Kadipaten hiduplah seorang pembantu (batur) yang bernama Suta. Pekerjaan atau tugas sehari-hari Suta ialah merawat kuda sang Adipati. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, biasanya Suta berjalan-jalan disekitar Kadipaten. Maksudnya, ia ingin lebih mengenal tempatnya bekerja.
Suatu sore, seperti biasanya Suta sedang berjalan-jalan disekitar tempat pemandian atau biasa disebut dengan taman sari. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh jeritan seorang wanita. Suta segera mencari arah jeritan tadi.
Akhirnya ia tiba didekat sebuah pohon besar. Dilihatnya putri Adipati menjerit-jerit dibawah pohon. Di dekatnya, seekor ular yang sangat besar menggelantung, mulutnya menganga siap menelan putri yang tengah ketakutan itu. Suta sendiri sebenarnya sangat takut melihat ular itu. Namun melihat keadaan putri Adipati yang pucat ketakutan itu, timbul keberaniannya untuk membunuh ular tersebut. Diambilnya bambu yang cukup besar, dipukulnya kepala ular tersebut berkali-kali. Ular itu menggeliat-geliat kesakitan. Dan tak lama kemudian ular itu diam tak bergerak. Mati.

“terima kasih kang Suta. Kau telah menyelamatkan jiwaku,” kata putri Adipati yang kelihatan masih gemetar.
“itu sudah menjadi tugas saya, Tuan putri. Hamba adalah abdi Kadipaten, yang selalu siap mengorbankan nyawa demi keselamatan tuan putri,” sahut Suta.
Putri Adipati itu kemudian diantar oleh Suta menuju Kadipaten.

Sejak peristiwa itu. Putri Adipati itu semakin akrab dengan Suta. Bahkan keduanya kini telah merasa saling jatuh hati. Dan mereka berencana meningkatkan hubungan ke tali pernikahan.
Hubungan kedua insan yang saling mencintai itu akhirnya diketahui oleh sang Adipati. Maka dia menjadi murka.
“dia hanya seorang batur..! Sedangkan dirimu seorang raden, putri seorang Adipati. Kau tak boleh menikah dengannya, anakku..!” kata sang Adipati
Mendengar kata-kata ayahnya sang putri sangat sedih hatinya. Apalagi ketika mendengar kabar bahwa Suta dimasukan penjara bawah tanah oleh sang Adipati. Kesalahan Suta ialah karena dia berani melamar putri seorang Adipati, yang berbeda derajat dan martabatnya diantara mereka.
Didalam penjara, Suta tidak diberi makan dan minum, bahkan ruang penjaranya digenangi air setinggi pinggang. Akibatnya Suta terserang penyakit demam. Mendengar kabar keadaan Suta, sang putri bertekad membebaskan kekasihnya itu.
“emban, aku harus bisa membebaskan kang Suta, kasihan dia. Dahulu dia telah menolong saya, aku telah berhutang nyawa kepadanya. Bantulah aku emban,” kata sang putri kepada pengasuhnya.
Pengasuh itu mengetahui perasaan putri ndaranya itu. Dia juga iba mendengar keadaan Suta yang sakit dipenjara. Maka pengasuh perempuan itu diam-diam menyelinap di penjara bawah tanah. Dan akhirnya ia berhasil membebaskan pemuda malang itu, dan dibawanya ke suatu tempat. Disana sang putri telah menunggu dengan seekor kuda. Kemudian dengan menunggang seekor kuda, mereka berboncengan pergi meninggalkan Kadipaten. Dalam perjalanan, keduanya menyamar sebagai orang desa, sehingga tak dikenali orang.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, sampailah keduanya di tepi sebuah sungai, mereka beristirahat sejenak. Sang Putri merawat Suta yang masih sakit.
Berkat kesabaran dan ketelatenan sang putri merawat Suta dan beberapa hari kemudian pemuda itu akhirnya sembuh seperti sediakala.
Karena tempat mereka berhenti itu dirasa cocok bagi mereka. Maka keduanya memutuskan untuk menetap disana. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama BATURADEN (yang berarti Batur dan Raden).

Baturaden sampai sekarang menjadi tempat wisata yang cukup menarik dan banyak dikunjungi orang. Tempat itu terletak di kaki gunung slamet Purwokerto, Jawa Tengah.


0 komentar:

Posting Komentar